Terapi Okupasional Bagi Penderita Stroke

     Fisioterapi berkonsentrasi pada gerakan yang benar pada anggota tubuh, sedangkan terapi okupasional (TO) mengajar pasien stroke untuk memperoleh fungsi praktisnya kembali, sebagai contoh: pasien butuh menggunakan pisau dan makan makanan. Tujuannya menolong pasien memaksimalkan kemampuannya dalam mengerjakan tugas sehari-hari, menambah tingkat kemandiriannya dan kualitas hidupnya.

Rencana Perawatan

     Begitu kondisi pasien telah stabil, terapis okupasional akan menilai tingkat kerusakan yang disebabkan oleh stroke dan membuat rencana perawatan tergantung pada prioritas dan kebutuhan pasien. Tingkat kemandirian yang ingin dicapai oleh setiap individu dan kemampuan yang dapat dicapainya dapat bervariasi, dan rencana perawatan akan mewakili hal ini.

Terapi Okupasional


Fisioterapi Bagi Penderita Stroke

     Fisioterapi dapat langsung dimulai setelah serangan stroke, kecuali keadaanya sangat parah. Bahkan, pasien yang tidak sadar atau dalam keadaan sangat lemah, dan harus terus-menerus di tempat tidur, membutuhkan fisioterapi untuk menjaga kebersihan paru-parunya untuk mengurangi risiko infeksi dada.

     Sesaat setelah stroke, otot-otot yang lumpuh mengalami kelemasan (hipotonik), tetapi secara bertahap kondisi berubah menjadi kaku (hipertonik atau spastik) dalam beberapa hari selanjutnya. Pada pasien yang tidak dapat bergerak, ada risiko terbentuknya trombus vena dalam pada otot betis. Menggunakan kaos kaki pendukung dan menggunakan obat antikoagulan dapat mencegah hal ini.

     Selama menjadi kaku, fisioterapis secara teratur akan menggerakkan anggota badan melewati rentang gerak yang normal untuk mengurangi kekakuan dan mencegah masalah-masalah pada sendi.

Fisioterapi oleh terapis

Pengobatan di Rumah Sakit Bagi Penderita Stroke (Bagian-2)

Kapan Obat Stroke Diresepkan?

     Tidak ada obat yang dapat membalikkan efek-efek stroke pada saat ini, jadi tujuan utama pengobatan adalah rehabilitasi. Biasanya dokter hanya menulis resep untuk mengurangi risiko stroke berikutnya dan jenis obatnya tergantung dari penyebab stroke awal.

     Obat tidak akan diresepkan sampai penyebabnya telah diketahui, karena sebagai contoh, jika pasien stroke yang menderita perdarahan otak diberi obat yang menghalangi penggumpalan darah, obat itu sendiri akan menambah tingkat kerusakan yang disebutkan oleh stroke awal.

obat aspirin

Pengobatan di Rumah Sakit Bagi Penderita Stroke (Bagian-1)

     Biasanya pasien stroke akan tinggal di rumah sakit selama beberapa hari sampai beberapa bulan, walaupun pada beberapa kasus perawatan di rumah dapat dilakukan sejak awal. Pasien berusia lanjut mungkin perlu dirawat di rumah sakit lebih lama waktunya.

     Setelah tes, pemeriksaan dan diagnosis awal, tim medis mulai memeriksa, merencanakan perawatan dan rehabilitasi. Fisioterapi, terapi okupasional, dan terapi wicara dapat dilakukan, sementara dokter dan perawat melakukan upaya-upaya untuk mencegah stroke menjadi lebih parah dan mengatasi komplikasi sekunder. Ahli gizi mungkin akan menyarankan perubahan diet untuk mengurangi tekanan darah tinggi.

Ilustrasi Pasien Stroke

Tes dan Pemeriksaan Penyakit Stroke

     Penderita stroke biasanya dirawat lebih dahulu di rumah sakit, bisa di bagian umum maupun di unit khusus stroke. Ketika pasien tiba, staf medis akan mencatat sejarah medis pasien dan seluruh keluarganya, dari pasien sendiri kalau pasien sadar, saudara, atau dokter keluarga. Pada tahap-tahap awal, sulit untuk diketahui jenis stroke apa yang terjadi sehingga dokter akan melakukan beberapa tes untuk mendiagnosis.

Beberapa tes setelah serangan stroke

Beberapa tes akan dilakukan setelah serangan stroke, diantaranya:

  • Tes darah untuk memeriksa diabetes, anemia (kurang darah), dan penyakit sel sabit (sejenis penyakit darah).
  • Rontgen dada untuk melihat ada tidaknya pembesaran jantung (tanda adanya tekanan darah tinggi).
  • CT (Computerized Tomography) Scan. CT Scan mirip dengan mesin rontgen, tetapi mengambil potongan-potongan tipis gambar secara horizontal melewati otak. Tes ini akan menunjukkan apakah perdarahan atau tumor yang terjadi, tetapi tidak dapat menunjukkan daerah jaringan mati pada beberapa jam pertama.
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging) Scan. Seperti CT Scan, tes ini menunjukkan perdarahan atau tumor dan dapat menunjukkan jaringan yang rusak dengan sangat cepat.
  • ECG (Electrocardiogram) untuk memeriksa penyakit jantung atau tanda-tanda serangan jantung yang terjadi akhir-akhir ini.
  • Ultrasound karotis untuk memeriksa arteri pada bagian leher yang memberi pasokan darah ke otak apakah mengalami kerusakan atau tidak.

Proses MRI Scan

Gejala-Gejala Penyakit Lain yang Mirip Dengan Stroke

Kalau ada kecurigaan bahwa seseorang menderita stroke, walaupun gejalanya kecil, selalu mintalah saran dokter. Kondisi-kondisi lain juga dapat menyebabkan gejala-gejala yang mirip dengan stroke, diantaranya:

Penyakit Alzheimer

     Penyebab demensia (hilang ingatan) yang paling umum adalah Alzheimer, merupakan penyakit degeneratif otak yang tidak dapat disembuhkan. Gejala pertama biasanya adalah berkurangnya ingatan diikuti kesulitan berbicara yang berlanjut pada kebingungan yang benar-benar melumpuhkan.

     Berbeda dengan stroke, kondisi ini tidak disebabkan oleh gangguan pasokan darah ke otak, tetapi gejala-gejalanya mirip dengan infark ganda yang sering kali dapat dicegah atau dirawat secara efektif. Jangan dengan mudah beranggapan bahwa ingatan yang menurun pada anggota keluarga yang sudah tua adalah akibat dari Alzheimer atau demensia pada masa tua, selalu periksakan ke dokter.

Penyakit Alzheimer

Sekilas Tentang Penyakit Stroke

     Setiap tahunnya di Amerika bertambah penderita stroke sebanyak 700 ribu jiwa per tahun, sedangkan di Indonesia prevalensi stroke mencapai 12,1 per 1000 orang. Kebanyakan dari penderita stroke berhasil sembuh walaupun 15% meninggal dalam waktu tiga minggu. 

     Kebanyakan orang yang meninggal sempat mengalami kehilangan kesadaran pada waktu stroke dan menderita kelumpuhan parah dalam tiga hari pertama. Penyebab kematian biasanya perdarahan serebral besar-besaran yang menyebabkan kematian hingga 80%, rusaknya sebagian besar sel, atau stroke yang terjadi pada batang otak yang mengontrol fungsi-fungsi vital, seperti pernapasan dan detak jantung.

Stroke karena perdarahan dan Ischemic Stroke